Halo halo! Gimana Eduday-nya minggu lalu? Jadi makin yakin sama pilihan kalian? Atau ada yang malah jadi berubah pikiran? Yang penting sekarang udah bukan waktunya masih bingung mau ke mana setelah ini. Sekarang waktunya fokus ngejar tujuan kalian dengan giat belajar buat UN dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Harapan kami sebagai panitia Eduday Smansasi 2016 adalah semoga persembahan hasil kerja keras kami bisa membantu kalian memecahkan kebingungan yang mungkin kalian hadapi selama ini. Sekarang giliran kalian mengerahkan seluruh kemampuan kalian buat bekerja keras meraih cita-cita kalian. Kami pernah ada di posisi kalian. Alhamdulillah banyak dari kami berhasil meraih tujuan kami dan kami tahu kalian juga pasti bisa melaluinya.
Aih berasa jadi kakak yang baik :')
Yak seperti biasa kali ini admin bawa ulasan menarik soal dunia perkuliahan. Walau Eduday udahan, terus mampir-mampir ke sini ya. Doakan saja agar mood admin nggak hilang buat terus berbagi informasi soal dunia kuliah di sini. Belajarnya distop dulu, rileks dulu sebentar, terus simak pembahasan kali ini tentang indeks prestasi.
Indeks prestasi (IP) adalah besaran ukur hasil belajar kalian. Di SMA ekuivalen dengan rata-rata rapor. Sebetulnya hampir sama kayak nilai/skor kuliah karena pengukurannya berdasarkan skor-skor ujian mata kuliah kuliah kalian. Ada dua macam IP: indeks prestasi semester (IPS) dan indeks prestasi kumulatif (IPK).
Walau ekuivalen dengan rata-rata rapor, cara ngitung IP nggak sesederhana njumlahin semua nilai terus dibagi jumlah mata kuliah. Di postingan sebelumnya tentang SKS admin pernah bilang bahwa nilai SKS suatu mata kuliah menunjukkan signifikansi mata kuliah tersebut di dalam program studi kalian. Nah salah satu wujud signifikansi itu ada di perhitungan IP ini.
Pertama, IPS. Setelah ujian kalian akan mendapatkan nilai[citation needed], biasanya berupa huruf A-E. Tiap huruf nilai punya bobot masing-masing dari 0.00-4.00, misalnya nilai A bobotnya 4.00, B bobotnya 3.00, dan seterusnya. Nah perhitungan IPS kira-kira begini:
Bobot nilai mata kuliah i dikali nilai SKS mata kuliah i tersebut, lalu total perkalian dari seluruh mata kuliah tersebut dibagi total SKS yang diambil pada semester tersebut.
Berikutnya IPK. Cara ngitungnya sama aja kayak IPS, bedanya yang dihitung adalah nilai seluruh nilai mata kuliah yang pernah kalian ambil di seluruh semester yang pernah kalian jalani. Nah IPK inilah yang menyebabkan kalian menyandang predikat prestisius cum laude, magna cum laude, atau summa cum laude ketika lulus. Tiap perguruan tinggi bisa punya aturan yang berbeda-beda soal pemberian predikat tersebut. Ada yang asal IPK-nya mencapai nilai tertentu aja, ada yang kuliahnya harus nggak lebih dari empat tahun, ada yang harus pernah publikasi riset, macem-macem deh.
Perihal SARIP
Di Eduday kemarin pasti ada di antara kalian yang nanya-nanya soal IP kakak-kakak yang kuliah di perguruan tinggi yang kalian sasar dan jawabannya cuma "hehe" atau "aduhhh" atau yang lainnya yang intinya si tertanya menolak buat menjawab. Admin sih yakin pasti itu terkait kabar-kabar bahwa penilaian SNMPTN tergantung juga pada nilai kakak-kakak kelas kalian selama kuliah.
Jadi gini, di tengah masyarakat anak kuliahan berkembang nilai dan norma yang menganggap IP itu privasi dan tindakan ngasih tau IP ke orang-orang itu pamali. Tindakan tersebut biasa disebut SARIP (suku, agama, ras, dan IP). Kenapa bisa dianggap pamali? Katanya sih kalo kecil malu, kalo gede nggak enak sama yang kecil.
Kuliah itu beda sama sekolahan yang masuk bareng lulus juga (kemungkinan amat sangat besar sekali) bareng. Dapet nilai kecil juga pasti guru kalian nggak bakal ngasih jauh-jauh dari KKM. Di sekolah, semales-males kalian (asal masih di dalam batas-batas) guru-guru kalian pasti bakal berusaha biar kalian tetep bisa lanjut dan ngikutin.
Di kuliahan kalo kalian tertinggal ya tertinggallah kalian. Pasti down banget kan rasanya kalo IP kalian di bawah sementara temen-temen kalian yang lain di atas. Kebayang-bayang terlambat lulus dan beban bayaran kuliahnya. Nah inilah salah satu alasan kenapa nyebarin IP ke orang-orang itu dianggap pamali. Selain menghindari sombong dan pamer, kita juga perlu menjaga perasaan teman-teman kita biar nggak makin down. Ya gimana semestinya kita berperilaku di tengah masyarakat aja pokoknya.
Gimana? Cukup jelas? Balik belajar lagi gih. Tapi kalo ada hal kurang jelas yang berkecamuk di pikiran kalian dan mengganggu belajar kalian, tanyain aja ke admin-admin kita di saluran sosmed lainnya. Insya Allah kalo kalian tanya masih dijawab kok. Semangat!
Tampilkan postingan dengan label #JustCollegeThings. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #JustCollegeThings. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Februari 2016
Sabtu, 23 Januari 2016
#JustCollegeThings Satuan Kredit Semester
Hai! Asiiik, Eduday Smansasi 2016: Pursuing Higher Education with EASE™ makin deket! Kosongin jadwal, siapin semua pertanyaan, ajakin temen-temen kalian buat dateng ya!
Belajarnya distop dulu sebentar, sebab kali ini admin bawa ulasan yang udah admin janjiin di postingan sebelumnya. Kali ini kita bakal ngebahas soal satuan kredit semester (SKS). Mungkin kalian yang anak Kurtilas™ udah cukup familiar dengan istilah ini, tapi karena admin bukan anak Kurtilas™ jadi admin nggak tau persis SKS-nya kalian sama atau enggak dengan SKS-nya kuliahan. Maaf ya :3
Tiap mata kuliah yang akan kalian ambil punya nilai SKS masing-masing ("nilai" as in "value," not as in "score"). Nilai SKS suatu mata kuliah akan berpengaruh pada banyaknya jam kuliah tiap minggu, yang pada akhirnya akan memengaruhi jadwal kuliah kalian. Jumlah SKS maksimum yang bisa diambil pada tiap semester bergantung pada besarnya indeks prestasi kumulatif (IPK) kalian. Nilai SKS mata kuliah yang kalian ambil pun akan berdampak pada besarnya pengaruh skor mata kuliah tersebut dalam perhitungan IPK. Jadi rencana studi, SKS, dan IPK bisa dibilang saling memengaruhi satu sama lain.
Gini ceritanya.
For simplicity's sake, SKS kita analogikan dengan mata uang. Tiap semester baru, kalian akan diberi sejumlah uang (jumlah SKS maksimum). Jumlahnya tergantung IPK kalian. Uang itu bisa kalian belanjakan dengan mata-mata kuliah yang mau kalian ambil waktu ngisi isian/kartu rencana studi (IRS/KRS). Bisa kalian habisin semuanya, atau bisa kalian sisain sedikit buat waktu istirahat atau ekskul. Sisa uang itu ada batas maksimumnya (jumlah SKS minimum), lagi-lagi tergantung IPK kalian. Sayangnya uang sisa belanja kalian di semester itu nggak bisa kalian bawa buat tambahan belanja di semester berikutnya.
Tiap mata kuliah jumlah jam kuliahnya mingguannya bisa beda-beda, ada yang dua jam kuliah tiap pertemuan, ada yang tiga jam. Biasanya satu jam kuliah harganya satu SKS, tapi kadang nggak semua mata kuliah begitu. Besarnya harga SKS suatu mata kuliah bisa dibilang menunjukkan "signifikansi" mata kuliah tersebut di dalam program studi kalian. Jadi makin besar harga SKS suatu mata kuliah, makin besar juga pengaruh nilai ujian kalian di mata kuliah tersebut dalam perhitungan indeks prestasi semester (IPS) kalian.
Setelah selesai satu semester, IPK baru kalian akan dihitung dari IPS di semester-semester yang pernah kalian jalanin. Seselesainya liburan semester, kalian akan diberi uang SKS lagi yang jumlahnya tergantung IPK baru kalian. Uang itu bisa kalian belanjakan dengan
Dan demikian seterusnya sampai kalian lulus.
Nantinya setelah total uang SKS yang kalian belanjain berbagai mata kuliah itu udah mencapai jumlah tertentu, uang itu akan dikembaliin lagi ke kalian buat dituker dengan wisuda. Tentunya setelah syarat-syarat lain juga udah terpenuhi, misalnya mencapai IPK minimum dan lunas bayaran kuliah.
[SPOILER] Ini nggak spoiler juga sih sebetulnya. Kalo kalian udah paham dengan konsep rencana studi dan SKS, tips ini cukup obvious. Tipsnya adalah belanjain sebanyak-banyaknya SKS di awal kuliah biar di semester-semester atas nanti, ketika kalian udah disibukkan dengan organisasi dan berbagai kerjaan, kuliahnya jadi lebih santai. Konsekuensinya ya beban kuliah kalian jadi berat di awal. Tapi ya pada akhirnya itu pilihan kalian sih mau pukul rata atau santai di belakang. [/SPOILER]
Begitulah kira-kira konsep dasar SKS. Mungkin ada beberapa poin yang kelewat, tapi menurut admin itu udah cukup kok buat pemahaman kalian sekarang. Kalo sekarang kalian bingung, nanti juga setelah merasakannya kalian bakal paham sendiri.
Tapi kalo masih penasaran juga bisa banget kok ditanya ke admin-admin lain lewat berbagai saluran socmed kita. Atau bisa juga disimpen di buku catatan buat ditanyain di Eduday Smansasi 2016: Pursuing Higher Education with EASE™ minggu depan. Sampai jumpa!
Belajarnya distop dulu sebentar, sebab kali ini admin bawa ulasan yang udah admin janjiin di postingan sebelumnya. Kali ini kita bakal ngebahas soal satuan kredit semester (SKS). Mungkin kalian yang anak Kurtilas™ udah cukup familiar dengan istilah ini, tapi karena admin bukan anak Kurtilas™ jadi admin nggak tau persis SKS-nya kalian sama atau enggak dengan SKS-nya kuliahan. Maaf ya :3
Tiap mata kuliah yang akan kalian ambil punya nilai SKS masing-masing ("nilai" as in "value," not as in "score"). Nilai SKS suatu mata kuliah akan berpengaruh pada banyaknya jam kuliah tiap minggu, yang pada akhirnya akan memengaruhi jadwal kuliah kalian. Jumlah SKS maksimum yang bisa diambil pada tiap semester bergantung pada besarnya indeks prestasi kumulatif (IPK) kalian. Nilai SKS mata kuliah yang kalian ambil pun akan berdampak pada besarnya pengaruh skor mata kuliah tersebut dalam perhitungan IPK. Jadi rencana studi, SKS, dan IPK bisa dibilang saling memengaruhi satu sama lain.
Gini ceritanya.
For simplicity's sake, SKS kita analogikan dengan mata uang. Tiap semester baru, kalian akan diberi sejumlah uang (jumlah SKS maksimum). Jumlahnya tergantung IPK kalian. Uang itu bisa kalian belanjakan dengan mata-mata kuliah yang mau kalian ambil waktu ngisi isian/kartu rencana studi (IRS/KRS). Bisa kalian habisin semuanya, atau bisa kalian sisain sedikit buat waktu istirahat atau ekskul. Sisa uang itu ada batas maksimumnya (jumlah SKS minimum), lagi-lagi tergantung IPK kalian. Sayangnya uang sisa belanja kalian di semester itu nggak bisa kalian bawa buat tambahan belanja di semester berikutnya.
Tiap mata kuliah jumlah jam kuliahnya mingguannya bisa beda-beda, ada yang dua jam kuliah tiap pertemuan, ada yang tiga jam. Biasanya satu jam kuliah harganya satu SKS, tapi kadang nggak semua mata kuliah begitu. Besarnya harga SKS suatu mata kuliah bisa dibilang menunjukkan "signifikansi" mata kuliah tersebut di dalam program studi kalian. Jadi makin besar harga SKS suatu mata kuliah, makin besar juga pengaruh nilai ujian kalian di mata kuliah tersebut dalam perhitungan indeks prestasi semester (IPS) kalian.
Setelah selesai satu semester, IPK baru kalian akan dihitung dari IPS di semester-semester yang pernah kalian jalanin. Seselesainya liburan semester, kalian akan diberi uang SKS lagi yang jumlahnya tergantung IPK baru kalian. Uang itu bisa kalian belanjakan dengan
Dan demikian seterusnya sampai kalian lulus.
Nantinya setelah total uang SKS yang kalian belanjain berbagai mata kuliah itu udah mencapai jumlah tertentu, uang itu akan dikembaliin lagi ke kalian buat dituker dengan wisuda. Tentunya setelah syarat-syarat lain juga udah terpenuhi, misalnya mencapai IPK minimum dan lunas bayaran kuliah.
[SPOILER] Ini nggak spoiler juga sih sebetulnya. Kalo kalian udah paham dengan konsep rencana studi dan SKS, tips ini cukup obvious. Tipsnya adalah belanjain sebanyak-banyaknya SKS di awal kuliah biar di semester-semester atas nanti, ketika kalian udah disibukkan dengan organisasi dan berbagai kerjaan, kuliahnya jadi lebih santai. Konsekuensinya ya beban kuliah kalian jadi berat di awal. Tapi ya pada akhirnya itu pilihan kalian sih mau pukul rata atau santai di belakang. [/SPOILER]
Begitulah kira-kira konsep dasar SKS. Mungkin ada beberapa poin yang kelewat, tapi menurut admin itu udah cukup kok buat pemahaman kalian sekarang. Kalo sekarang kalian bingung, nanti juga setelah merasakannya kalian bakal paham sendiri.
Tapi kalo masih penasaran juga bisa banget kok ditanya ke admin-admin lain lewat berbagai saluran socmed kita. Atau bisa juga disimpen di buku catatan buat ditanyain di Eduday Smansasi 2016: Pursuing Higher Education with EASE™ minggu depan. Sampai jumpa!
Jumat, 08 Januari 2016
#JustCollegeThings Rencana Studi
Halo! Cie yang udah masuk sekolah lagi. Tahun baru, semangat baru. Semangat buat belajar, semangat buat meraih cita-cita. Meninggalkan SMA tercinta; berpisah dengan teman-teman, adik-adik kelas, guru-guru terkasih; mengumpulkan memori-memori terakhir yang akan kalian cetak di dalam buku kenangan masa putih abu-abu yang tiada terganti; menutupnya dengan sampul bertuliskan ungkapan penuh harapan: "see you on top, friends!" ....
Cie baper.
Seperti biasa, belajarnya distop dulu sebentar, sebab kali ini admin bawa pembahasan lagi soal hal-hal yang perlu kalian ketahui perihal dunia perkuliahan. Kali ini kita bakal ngebahas rencana studi.
Kalian udah punya rencana setelah SMA ini mau lanjut ke program studi apa? Oke.
Di perguruan tinggi mana? Sip.
Ambil berapa SKS? Ehm ....
Ambil mata kuliah apa aja? Prasyaratnya udah terpenuhi semua belum? Di kelas mana? Dosennya siapa? Jadwalnya kapan? Peminatan apa nanti?
Iya, di kuliah nanti rencana studi kalian bakal seterperinci itu. Mungkin itu salah satu sebab orang bilang kuliah itu lebih bebas dari sekolah. Semua itu bisa kalian pilih sendiri.
Sistem rencana studi ini ada di banyak perguruan tinggi. Biasanya di awal tiap semester kalian bakal diminta buat ngisi Isian/Kartu Rencana Studi (IRS/KRS), baik tertulis di atas kertas formulir maupun online lewat web portal akademik masing-masing perguruan tinggi.
IRS ini nantinya diisi dengan mata kuliah apa aja yang mau kalian ambil dan oleh dosen yang mana kalian mau diajari. Dari situ akan terbentuk jadwal kuliah dan kelas-kelasnya. Biasanya di tiap semester ada jumlah SKS maksimal, beberapa mata kuliah wajib yang harus diambil, dan jumlah maksimal mahasiswa tiap kelas yang diajar tiap dosen. Jadi ada batasan-batasannya dan biasanya kalian bakal rebutan jadwal/kelas/dosen sama temen-temen kalian. Kalo kalian agak bingung dengan konsep SKS, mungkin akan dibahas di lain postingan.
Walau keliatannya sederhana, tapi kalian nggak bisa sembarangan ngisi IRS loh. Harus ada poin-poin yang jadi pertimbangan kalian, sebab rencana studi ini bisa berpengaruh buat masa depan studi kalian dan terpengaruh oleh riwayat studi kalian.
Yang pertama dan yang paling sering jadi rebutan adalah dosen. Ada beberapa tempat yang punya kebijakan pemaketan rencana studi semester pertama, jadi kalian nggak punya kesempatan buat ngisi IRS sendiri. Kalaupun ngisi, biasanya cuma buat latihan aja buat di semester-semester depan.
Seiring waktu berlalu, kalian akan tau dosen mana aja yang sesuai dengan karakter kalian. Kalian juga akan kenal dan dekat dengan kakak-kakak tingkat yang dengan senang hati akan menceritakan pengalamannya diajari oleh dosen-dosen mereka. Akhirnya ketika tiba waktu pengisian IRS berikutnya kalian udah punya dosen incaran dan buru-buru mendaftar jadi muridnya sebelum keduluan temen-temen kalian.
Berikutnya adalah jadwal. Di SMA sebagian besar dari kalian yang ikut ekskul udah belajar cara ngatur waktu berorganisasi biar nggak bentrok sama jadwal belajar. Di kuliah bisa sebaliknya, jadwal kuliah yang kalian atur biar nggak bentrok sama jadwal berorganisasi, istirahat, dan nyuci baju. Tergantung prioritas kalian. Tapi jadwal kelas biasanya ngikutin jadwal dosen. Jadi tinggal pilih, kalian mau jadwal-oriented atau dosen-oriented.
Selanjutnya adalah mata kuliah yang mau kalian ambil di semester-semester yang akan datang. Ibarat Sid Meier's Civilization, teknologi combustion nggak bisa kalian dapetin sebelum kalian punya teknologi explosives. Di kuliah juga gitu, ada beberapa mata kuliah yang jadi prasyarat biar kalian bisa ngambil mata kuliah lain, jadi kalian harus ambil mata kuliah Matematika Ekonomi I—dan lulus dengan nilai minimal tertentu—biar bisa ngambil Matematika Ekonomi II di semester yang akan datang. Tapi ada juga mata-mata kuliah yang prasyaratnya ada di semester yang sama. Biasanya mata kuliah teori jadi prasyarat buat mata kuliah praktikumnya. Ya iyalah.
Yang terakhir adalah minat kalian sendiri. Di luar mata kuliah wajib semester dan wajib peminatan biasanya ada mata-mata kuliah pilihan yang bisa kalian ambil sesuai dengan minat kalian asal prasyaratnya terpenuhi dan masih ada slot SKS. Kalo kalian kuliah di program studi fisika dan pengen mendalami astronomi, kalian bisa ambil mata kuliah Mekanika Benda Langit. Kalo kalian kuliah di ilmu komputer dan deep inside kalian masih anak biologi, kalian bisa ambil Bioinformatika. Asik kan?
Cukup jelas? Cari info soal program studi di universitas yang mau kalian ambil dan pikirin garis besar rencana studi kalian biar sesuai dengan cita-cita kalian selulus kuliah nanti. Semangat!
Cie baper.
Seperti biasa, belajarnya distop dulu sebentar, sebab kali ini admin bawa pembahasan lagi soal hal-hal yang perlu kalian ketahui perihal dunia perkuliahan. Kali ini kita bakal ngebahas rencana studi.
Kalian udah punya rencana setelah SMA ini mau lanjut ke program studi apa? Oke.
Di perguruan tinggi mana? Sip.
Ambil berapa SKS? Ehm ....
Ambil mata kuliah apa aja? Prasyaratnya udah terpenuhi semua belum? Di kelas mana? Dosennya siapa? Jadwalnya kapan? Peminatan apa nanti?
Iya, di kuliah nanti rencana studi kalian bakal seterperinci itu. Mungkin itu salah satu sebab orang bilang kuliah itu lebih bebas dari sekolah. Semua itu bisa kalian pilih sendiri.
Sistem rencana studi ini ada di banyak perguruan tinggi. Biasanya di awal tiap semester kalian bakal diminta buat ngisi Isian/Kartu Rencana Studi (IRS/KRS), baik tertulis di atas kertas formulir maupun online lewat web portal akademik masing-masing perguruan tinggi.
IRS ini nantinya diisi dengan mata kuliah apa aja yang mau kalian ambil dan oleh dosen yang mana kalian mau diajari. Dari situ akan terbentuk jadwal kuliah dan kelas-kelasnya. Biasanya di tiap semester ada jumlah SKS maksimal, beberapa mata kuliah wajib yang harus diambil, dan jumlah maksimal mahasiswa tiap kelas yang diajar tiap dosen. Jadi ada batasan-batasannya dan biasanya kalian bakal rebutan jadwal/kelas/dosen sama temen-temen kalian. Kalo kalian agak bingung dengan konsep SKS, mungkin akan dibahas di lain postingan.
Walau keliatannya sederhana, tapi kalian nggak bisa sembarangan ngisi IRS loh. Harus ada poin-poin yang jadi pertimbangan kalian, sebab rencana studi ini bisa berpengaruh buat masa depan studi kalian dan terpengaruh oleh riwayat studi kalian.
Yang pertama dan yang paling sering jadi rebutan adalah dosen. Ada beberapa tempat yang punya kebijakan pemaketan rencana studi semester pertama, jadi kalian nggak punya kesempatan buat ngisi IRS sendiri. Kalaupun ngisi, biasanya cuma buat latihan aja buat di semester-semester depan.
Seiring waktu berlalu, kalian akan tau dosen mana aja yang sesuai dengan karakter kalian. Kalian juga akan kenal dan dekat dengan kakak-kakak tingkat yang dengan senang hati akan menceritakan pengalamannya diajari oleh dosen-dosen mereka. Akhirnya ketika tiba waktu pengisian IRS berikutnya kalian udah punya dosen incaran dan buru-buru mendaftar jadi muridnya sebelum keduluan temen-temen kalian.
Berikutnya adalah jadwal. Di SMA sebagian besar dari kalian yang ikut ekskul udah belajar cara ngatur waktu berorganisasi biar nggak bentrok sama jadwal belajar. Di kuliah bisa sebaliknya, jadwal kuliah yang kalian atur biar nggak bentrok sama jadwal berorganisasi, istirahat, dan nyuci baju. Tergantung prioritas kalian. Tapi jadwal kelas biasanya ngikutin jadwal dosen. Jadi tinggal pilih, kalian mau jadwal-oriented atau dosen-oriented.
Selanjutnya adalah mata kuliah yang mau kalian ambil di semester-semester yang akan datang. Ibarat Sid Meier's Civilization, teknologi combustion nggak bisa kalian dapetin sebelum kalian punya teknologi explosives. Di kuliah juga gitu, ada beberapa mata kuliah yang jadi prasyarat biar kalian bisa ngambil mata kuliah lain, jadi kalian harus ambil mata kuliah Matematika Ekonomi I—dan lulus dengan nilai minimal tertentu—biar bisa ngambil Matematika Ekonomi II di semester yang akan datang. Tapi ada juga mata-mata kuliah yang prasyaratnya ada di semester yang sama. Biasanya mata kuliah teori jadi prasyarat buat mata kuliah praktikumnya. Ya iyalah.
Yang terakhir adalah minat kalian sendiri. Di luar mata kuliah wajib semester dan wajib peminatan biasanya ada mata-mata kuliah pilihan yang bisa kalian ambil sesuai dengan minat kalian asal prasyaratnya terpenuhi dan masih ada slot SKS. Kalo kalian kuliah di program studi fisika dan pengen mendalami astronomi, kalian bisa ambil mata kuliah Mekanika Benda Langit. Kalo kalian kuliah di ilmu komputer dan deep inside kalian masih anak biologi, kalian bisa ambil Bioinformatika. Asik kan?
Cukup jelas? Cari info soal program studi di universitas yang mau kalian ambil dan pikirin garis besar rencana studi kalian biar sesuai dengan cita-cita kalian selulus kuliah nanti. Semangat!
Jumat, 25 Desember 2015
#JustCollegeThings Uang Kuliah Tunggal
Hai! Gimana kabar rapor? Sehat? Setelah keluar rapor semester 5 dan melirik riwayat rapor kalian ke belakang, mestinya kalian yang mau ikutan SNMPTN udah punya gambaran buat nentuin kelanjutan studi kalian. Kalo kalian bener-bener berharap banget dengan SNMPTN, mungkin setelah ngeliat hasil rapor kalian bisa menyesuaikan lagi pilihan kalian. Tapi kalo kalian yakin dengan kemampuan kalian dan siap berjuang di SBMPTN atau ujian mandiri, mestinya gimanapun hasil rapor kalian dan apapun pilihan kalian di SNMPTN nanti nggak jadi masalah, karena, ya, nothing to lose.
Tapi nanti dululah pusingnya. Liburan aja dulu, menyegarkan pikiran dan kejiwaan sebelum bener-bener diperes habis di UN dan ujian masuk perguruan tinggi. Dan sebelum mulai kemas-kemas koper mending baca ulasan admin kali ini. Kali ini kita bakal ngebahas hal kedua atau ketiga yang paling sering kalian tanya ke kakak-kakak alumni, yaitu tentang sistem Uang Kuliah Tunggal atau UKT.
"Uang Kuliah", artinya biaya kuliah. Ekuivalen dengan SPP di sekolah. "Tunggal", artinya satu-satunya. Jadi di sistem UKT kalian cukup bayar biaya kuliah satu kali dan itu aja dalam satu periode tertentu—biasanya satu semester—dan di dalam tiap periode pembayaran besarannya selalu sama. Biaya per semester emang jadi agak lebih mahal dibanding sebelum UKT berlaku, tapi kalian jadi terbebas dari beban uang pangkal di awal masuk kuliah yang besarnya bisa belasan-puluhan juta rupiah.
Karena biaya kuliah satu-satunya, *mestinya* pihak universitas nggak berhak buat mungut biaya apa-apa lagi buat kepentingan apapun, termasuk uang pangkal, uang gedung, uang fasilitas, biaya SKS, biaya praktikum, dan biaya-biaya lainnya karena semuanya udah di-cover UKT.
Besaran UKT dibagi ke dalam beberapa tingkatan dan bisa beda-beda buat tiap orang, tergantung kebijakan tiap universitas, program studi, dan kemampuan ekonomi keluarga kalian. Jadi setelah kalian dinyatakan lulus seleksi masuk, pihak universitas bakal minta berbagai macam data, termasuk data tentang rincian pendapatan orang tua dan kondisi ekonomi keluarga kalian. Dari data itu bakal ditentuin biaya kuliah kalian ada di tingkatan berapa. Kalo keluarga kalian tergolong berkecukupan atau malah berkelebihan dan dapet tingkatan UKT yang tinggi, ikhlaskan. Sebab salah satu tujuan awal penerapan UKT itu buat membantu teman-teman kalian nanti yang keluarganya kurang mampu lewat subsidi silang.
UKT ini mulai diterapkan baru sejak angkatan 2013 yang lalu dan berlaku di seluruh PTN di Indonesia. Tapi berlakunya cuma buat kelas-kelas reguler loh ya. Di kelas-kelas internasional dan kelas paralelnya UI, sistem pemeringkatan UKT nggak berlaku. Biasanya besarannya rata buat setiap orang. Jadi kalo kemampuan ekonomi keluarga jadi salah satu pertimbangan kalian, pastiin kalian nggak salah masuk kelas atau salah jalur masuk, biar kalian sendiri nggak kerepotan nantinya.
Nah itu kan buat PTN, gimana buat yang PTS?
Di PTS nggak ada sistem yang berlaku universal buat seluruh PTS, jadi sistem pembiayaan kuliahnya tergantung kebijakan masing-masing universitas. Ada yang membebankan uang pangkal cuma buat mahasiswa yang masuk lewat jalur tertentu, ada yang besarannya tergantung jumlah SKS yang diambil, ada yang besarannya rata buat semua orang, pokoknya tergantung kebijakan universitasnya.
Gimana, jelas kan? Jelas dong. Pesan admin itu tadi, kalo kemampuan ekonomi keluarga termasuk pertimbangan kalian, cari tau info soal kelas atau jalur masuk yang akan kalian tempuh nanti. Jangan sampe kalian kerepotan sendiri nantinya. Misal kalian ngerasa besaran UKT yang kalian dapet nggak sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga kalian, jangan malu-malu buat ngadu ke posko-posko advokasi yang biasanya ada di bawah BEM tiap universitas atau fakultas.
Dan semisal kalian menemukan penyimpangan dalam penerapan UKT, jangan diem aja. Tuntut, lawan, luruskan.
Tapi nanti dululah pusingnya. Liburan aja dulu, menyegarkan pikiran dan kejiwaan sebelum bener-bener diperes habis di UN dan ujian masuk perguruan tinggi. Dan sebelum mulai kemas-kemas koper mending baca ulasan admin kali ini. Kali ini kita bakal ngebahas hal kedua atau ketiga yang paling sering kalian tanya ke kakak-kakak alumni, yaitu tentang sistem Uang Kuliah Tunggal atau UKT.
"Uang Kuliah", artinya biaya kuliah. Ekuivalen dengan SPP di sekolah. "Tunggal", artinya satu-satunya. Jadi di sistem UKT kalian cukup bayar biaya kuliah satu kali dan itu aja dalam satu periode tertentu—biasanya satu semester—dan di dalam tiap periode pembayaran besarannya selalu sama. Biaya per semester emang jadi agak lebih mahal dibanding sebelum UKT berlaku, tapi kalian jadi terbebas dari beban uang pangkal di awal masuk kuliah yang besarnya bisa belasan-puluhan juta rupiah.
Karena biaya kuliah satu-satunya, *mestinya* pihak universitas nggak berhak buat mungut biaya apa-apa lagi buat kepentingan apapun, termasuk uang pangkal, uang gedung, uang fasilitas, biaya SKS, biaya praktikum, dan biaya-biaya lainnya karena semuanya udah di-cover UKT.
Besaran UKT dibagi ke dalam beberapa tingkatan dan bisa beda-beda buat tiap orang, tergantung kebijakan tiap universitas, program studi, dan kemampuan ekonomi keluarga kalian. Jadi setelah kalian dinyatakan lulus seleksi masuk, pihak universitas bakal minta berbagai macam data, termasuk data tentang rincian pendapatan orang tua dan kondisi ekonomi keluarga kalian. Dari data itu bakal ditentuin biaya kuliah kalian ada di tingkatan berapa. Kalo keluarga kalian tergolong berkecukupan atau malah berkelebihan dan dapet tingkatan UKT yang tinggi, ikhlaskan. Sebab salah satu tujuan awal penerapan UKT itu buat membantu teman-teman kalian nanti yang keluarganya kurang mampu lewat subsidi silang.
UKT ini mulai diterapkan baru sejak angkatan 2013 yang lalu dan berlaku di seluruh PTN di Indonesia. Tapi berlakunya cuma buat kelas-kelas reguler loh ya. Di kelas-kelas internasional dan kelas paralelnya UI, sistem pemeringkatan UKT nggak berlaku. Biasanya besarannya rata buat setiap orang. Jadi kalo kemampuan ekonomi keluarga jadi salah satu pertimbangan kalian, pastiin kalian nggak salah masuk kelas atau salah jalur masuk, biar kalian sendiri nggak kerepotan nantinya.
Nah itu kan buat PTN, gimana buat yang PTS?
Di PTS nggak ada sistem yang berlaku universal buat seluruh PTS, jadi sistem pembiayaan kuliahnya tergantung kebijakan masing-masing universitas. Ada yang membebankan uang pangkal cuma buat mahasiswa yang masuk lewat jalur tertentu, ada yang besarannya tergantung jumlah SKS yang diambil, ada yang besarannya rata buat semua orang, pokoknya tergantung kebijakan universitasnya.
Gimana, jelas kan? Jelas dong. Pesan admin itu tadi, kalo kemampuan ekonomi keluarga termasuk pertimbangan kalian, cari tau info soal kelas atau jalur masuk yang akan kalian tempuh nanti. Jangan sampe kalian kerepotan sendiri nantinya. Misal kalian ngerasa besaran UKT yang kalian dapet nggak sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga kalian, jangan malu-malu buat ngadu ke posko-posko advokasi yang biasanya ada di bawah BEM tiap universitas atau fakultas.
Dan semisal kalian menemukan penyimpangan dalam penerapan UKT, jangan diem aja. Tuntut, lawan, luruskan.
Jumat, 11 Desember 2015
#JustCollegeThings Program Kreativitas Mahasiswa
Hai hai semua! Belajarnya udah sampe mana? Coba dijeda dulu belajarnya dan simak pembahasan kali ini. Tiba-tiba admin jadi terpikir buat ngebahas hal-hal yang terkait dengan dunianya anak kuliah biar kalian nggak buta-buta amat nantinya. Dan hal yang terlintas di pikiran admin buat dibahas kali ini adalah soal PKM atau Program Kreativitas Mahasiswa.
PKM adalah program tahunan dari Kemenristekdikti buat para mahasiswa. Judul acaranya udah self-explanatory lah ya, tujuannya sebagai wadah pengembangan kreativitas mahasiswa. Kreativitasnya yang kayak gimana? Jangan ngebayangin acaranya bakal kayak semacem event lomba kesenian atau olahraga di jaman SMA. Di sini yang bakal diasah adalah kreativitas kalian buat menghasilkan karya-karya nyata yang bisa berguna bagi masyarakat.
Ada beberapa cabang di PKM. Ada PKM-P atau penelitian. Ada PKM-KC atau karsa cipta. Ini cocok buat kalian yang seneng ngoprek dan kreatifnya hi-tech. Ada PKM-T atau penerapan teknologi. Bedanya sama PKM-KC itu, di PKM-T penerapan teknologinya ditujukan buat secara langsung membantu masyarakat produktif, dan biasanya nggak se-hi-tech PKM-KC. Ada PKM-M atau pengabdian masyarakat. Bedanya sama PKM-T, di PKM-M kalian membantu masyarakat yang kurang atau tidak produktif. Ada lagi PKM-K atau kewirausahaan, buat kalian yang kreatif ngedesain produk dan berwirausaha. Ada PKM-AI atau artikel ilmiah. Yang terakhir ada PKM-GT atau gagasan tertulis, buat kalian yang seneng berkhayal dan membayangkan apa yang bisa dibuat jadi lebih baik di sekitar kalian.
Wih kayaknya asik tuh kak. Aku jadi minat nih, tapi takut nantinya kebentur soal biaya ....
Tenaaang! Jangan takut lingkaran kreativitas kalian nantinya bersinggungan dengan kurva urusan pendanaan. Nantinya kalian bakal dapet pendanaan langsung dari Kemenristekdikti. Biasanya pendanaan maksimal sekitar Rp12jt.
Biar lebih jelas, admin dibantu kak Fajar yang ikut PKM-KC sama kak Anjas yang ikut PKM-KC juga dan PKM-M nih. Di kalangan universitas, PKM itu bener-bener ajang yang bergensi banget. Jadi banyak universitas yang bener-bener menganjurkan mahasiswanya buat ikutan PKM. Bahkan beberapa universitas ada yang ngewajibin PKM buat sebagian atau seluruh mahasiswanya. Misalnya di UNPAD, kata kak Fajar ada program dari universitas yang ngewajibin mahasiswa baru buat ikut PKM. Di prodinya kak Anjas juga katanya ada wajib PKM buat seluruh mahasiswa baru.
Di universitas atau fakultas atau prodi yang mewajibkan mahasiswanya buat ikutan PKM biasanya bakal ada semacem acara sosialisasi atau pelatihan mengenai PKM. Di situ biasanya sekalian dibentuk tim-timnya kalo kalian belom punya tim. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari dan merumuskan ide. Kalian mau ikut PKM apa dan mau bikin apa. Berikutnya adalah bikin proposal sebagai paparan ide tim kalian yang nantinya akan diseleksi di fakultas atau universitas, tergantung sistem di masing-masing universitas. Kalo ide kalian diterima, kalian akan dapet pendanaan sesuai dengan yang tertera di proposal kalian. Setelah itu, mulailah kalian ngerjain proyek yang jadi gagasan tim kalian.
Puncaknya PKM adalah Pimnas atau Pekan Ilmiah Nasional. Di sana kalian bakal ketemu dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas yang bawa karya-karya mereka dan siap bersaing dengan tim kalian. Nanti karya kalian bakal dipresentasiin di depan juri. Setelah itu nunggu pengumuman juara deh. Yang jadi rebutan adalah gelar juara umum buat universitasnya. Tahun 2014 lalu yang jadi juara umum UGM, tahun 2015 ini juaranya UB. Tahun depan, doakan saja kakak-kakak kalian ini yang akan saling bersaing biar dapet hasil terbaik. Depannya lagi? Mungkin kalian yang akan bawa nama universitas kalian kelak buat dapet gelar juara umum.
Admin pernah ikutan sosialisasi PKM dan dapet beberapa tips nentuin gagasan, milih judul, dan bikin proposal yang baik. Mungkin masih terlalu jauh buat kalian, jadi ini sekadar FYI aja sih siapa tau di antara kalian ada yang setelah baca beberapa paragraf di atas langsung terinspirasi.
Pertama, ide atau topiknya dulu. "Pilih masalah aktual, hangat, relevan, dan mendesak." Istilah kitanya mah, masalah yang lagi jadi trending topic. Topik yang hangat pastinya punya nilai tambah karena kita jadi ikut mencarikan solusi bagi masalah yang sedang terjadi. Berikutnya pilih judul proyek (baca: proposal) kita. Sebisa mungkin judulnya "harus mampu memikat pembaca pada pandangan pertama." Atau kata orang luar, eye-catching. Kabarnya ada proposal-proposal yang nggak begitu diperhatiin, bahkan sama sekali nggak dibaca juri cuma karena judulnya nggak menarik. Buat pembuatan proposal nanti ada panduan resminya. Yang penting jangan melenceng dari panduannya dan jangan lupa untuk selalu memperhatikan kaidah tata Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar.
Cukup sekian mungkin yah. Sekarang ini sih yang penting fokusin usaha kalian buat lulus UN dengan nilai yang memuaskan dan lolos ke perguruan tinggi yang kalian idamkan. Tapi nggak ada salahnya juga sih mulai ngumpulin ide buat ikutan PKM nanti kalo setelah baca postingan ini kalian jadi beneran terinspirasi. Kalo ada yang kurang jelas boleh loh ditanya-tanya ke admin-admin lain di berbagai saluran socmed kita. Semoga kalian dapet hasil yang terbaik di segala usaha yang sedang kalian jalani.
PKM adalah program tahunan dari Kemenristekdikti buat para mahasiswa. Judul acaranya udah self-explanatory lah ya, tujuannya sebagai wadah pengembangan kreativitas mahasiswa. Kreativitasnya yang kayak gimana? Jangan ngebayangin acaranya bakal kayak semacem event lomba kesenian atau olahraga di jaman SMA. Di sini yang bakal diasah adalah kreativitas kalian buat menghasilkan karya-karya nyata yang bisa berguna bagi masyarakat.
Ada beberapa cabang di PKM. Ada PKM-P atau penelitian. Ada PKM-KC atau karsa cipta. Ini cocok buat kalian yang seneng ngoprek dan kreatifnya hi-tech. Ada PKM-T atau penerapan teknologi. Bedanya sama PKM-KC itu, di PKM-T penerapan teknologinya ditujukan buat secara langsung membantu masyarakat produktif, dan biasanya nggak se-hi-tech PKM-KC. Ada PKM-M atau pengabdian masyarakat. Bedanya sama PKM-T, di PKM-M kalian membantu masyarakat yang kurang atau tidak produktif. Ada lagi PKM-K atau kewirausahaan, buat kalian yang kreatif ngedesain produk dan berwirausaha. Ada PKM-AI atau artikel ilmiah. Yang terakhir ada PKM-GT atau gagasan tertulis, buat kalian yang seneng berkhayal dan membayangkan apa yang bisa dibuat jadi lebih baik di sekitar kalian.
Wih kayaknya asik tuh kak. Aku jadi minat nih, tapi takut nantinya kebentur soal biaya ....
Tenaaang! Jangan takut lingkaran kreativitas kalian nantinya bersinggungan dengan kurva urusan pendanaan. Nantinya kalian bakal dapet pendanaan langsung dari Kemenristekdikti. Biasanya pendanaan maksimal sekitar Rp12jt.
Biar lebih jelas, admin dibantu kak Fajar yang ikut PKM-KC sama kak Anjas yang ikut PKM-KC juga dan PKM-M nih. Di kalangan universitas, PKM itu bener-bener ajang yang bergensi banget. Jadi banyak universitas yang bener-bener menganjurkan mahasiswanya buat ikutan PKM. Bahkan beberapa universitas ada yang ngewajibin PKM buat sebagian atau seluruh mahasiswanya. Misalnya di UNPAD, kata kak Fajar ada program dari universitas yang ngewajibin mahasiswa baru buat ikut PKM. Di prodinya kak Anjas juga katanya ada wajib PKM buat seluruh mahasiswa baru.
Di universitas atau fakultas atau prodi yang mewajibkan mahasiswanya buat ikutan PKM biasanya bakal ada semacem acara sosialisasi atau pelatihan mengenai PKM. Di situ biasanya sekalian dibentuk tim-timnya kalo kalian belom punya tim. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari dan merumuskan ide. Kalian mau ikut PKM apa dan mau bikin apa. Berikutnya adalah bikin proposal sebagai paparan ide tim kalian yang nantinya akan diseleksi di fakultas atau universitas, tergantung sistem di masing-masing universitas. Kalo ide kalian diterima, kalian akan dapet pendanaan sesuai dengan yang tertera di proposal kalian. Setelah itu, mulailah kalian ngerjain proyek yang jadi gagasan tim kalian.
Puncaknya PKM adalah Pimnas atau Pekan Ilmiah Nasional. Di sana kalian bakal ketemu dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas yang bawa karya-karya mereka dan siap bersaing dengan tim kalian. Nanti karya kalian bakal dipresentasiin di depan juri. Setelah itu nunggu pengumuman juara deh. Yang jadi rebutan adalah gelar juara umum buat universitasnya. Tahun 2014 lalu yang jadi juara umum UGM, tahun 2015 ini juaranya UB. Tahun depan, doakan saja kakak-kakak kalian ini yang akan saling bersaing biar dapet hasil terbaik. Depannya lagi? Mungkin kalian yang akan bawa nama universitas kalian kelak buat dapet gelar juara umum.
Admin pernah ikutan sosialisasi PKM dan dapet beberapa tips nentuin gagasan, milih judul, dan bikin proposal yang baik. Mungkin masih terlalu jauh buat kalian, jadi ini sekadar FYI aja sih siapa tau di antara kalian ada yang setelah baca beberapa paragraf di atas langsung terinspirasi.
Pertama, ide atau topiknya dulu. "Pilih masalah aktual, hangat, relevan, dan mendesak." Istilah kitanya mah, masalah yang lagi jadi trending topic. Topik yang hangat pastinya punya nilai tambah karena kita jadi ikut mencarikan solusi bagi masalah yang sedang terjadi. Berikutnya pilih judul proyek (baca: proposal) kita. Sebisa mungkin judulnya "harus mampu memikat pembaca pada pandangan pertama." Atau kata orang luar, eye-catching. Kabarnya ada proposal-proposal yang nggak begitu diperhatiin, bahkan sama sekali nggak dibaca juri cuma karena judulnya nggak menarik. Buat pembuatan proposal nanti ada panduan resminya. Yang penting jangan melenceng dari panduannya dan jangan lupa untuk selalu memperhatikan kaidah tata Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar.
Cukup sekian mungkin yah. Sekarang ini sih yang penting fokusin usaha kalian buat lulus UN dengan nilai yang memuaskan dan lolos ke perguruan tinggi yang kalian idamkan. Tapi nggak ada salahnya juga sih mulai ngumpulin ide buat ikutan PKM nanti kalo setelah baca postingan ini kalian jadi beneran terinspirasi. Kalo ada yang kurang jelas boleh loh ditanya-tanya ke admin-admin lain di berbagai saluran socmed kita. Semoga kalian dapet hasil yang terbaik di segala usaha yang sedang kalian jalani.
Langganan:
Postingan (Atom)
